
“Nona,pagi ini kau mau sarapan apa?”tanya Bibi Song pada gadis yang duduk manis di sofa itu.Tangannya sibuk menekan tombol remote televisi untuk mencari channel yang akan dia tonton.
“Ah,apa saja,”jawabnya singkat.Matanya tidak beranjak dari layar.
“Ah..baiklah..”Bibi Song membungkukkan badan dan meninggalkan tempat itu.
Aish,apa pagi begini tidak ada acara televisi yang bisa kutonton?Ia menggerutu dalam hati.Kemudian,ia mengalihkan pandangannya ke arah jam dinding.Jarumnya menunjukkan angka 6 tepat.Semestinya tukang koran sudah mengantar koran jam segini.Akhirnya gadis itu berjalan keluar rumah dan memutuskan menunggu koran di halaman rumahnya.
“Guk guk!!”Anjing golden retriever itu menggonggong begitu melihat gadis itu keluar.Gadis itu tersenyum dan menghampirinya.Lalu ia membelai anjing itu lembut.
“Annyeong,Ruby,”kata gadis itu pada anjingnya.Anjing itu hanya menatap si pemilik.
“Ya,aku tahu,biasanya hari libur begini,aku tidak akan bangun sepagi ini kan??Hihi..”gadis itu membelai bulu-bulu Ruby yang lembut.
Gadis itu mengambil bola yang biasa dimainkan Ruby bersamanya.Ia memainkan bola tersebut sambil berjalan ke arah pagar dan membiarkan anjing tersebut mengikutinya.Gadis itu celingak-celinguk.Jalanan depan komplek masih sepi.Hah,ke mana sih tukang koran itu?Aku mau membaca berita pagi ini,ia menggerutu dalam hati.Ia membalik badannya dan berjalan menjauhi pagar dan tepat saat itu,lemparan si tukang koran mengenai punggung gadis itu.Koran tersebut jatuh ke tanah.Tukang koran itu terburu-buru mau mengambil langkah seribu.Gadis itu berbalik dengan tatapan marah ke tukang koran di depan pagar.
“HYAAA!!!LEE DONGHAEEEE!!!”panggil gadis itu dengan suara keras memecah keheningan pagi.
Gadis itu berlari keluar rumah dan mengejar tukang koran bernama Donghae yang sudah menjauhi rumahnya.Gadis itu menimpuk Donghae dengan bola yang ada di tangannya dan mengenai punggung laki-laki itu.Gadis itu tersenyum lebar.YES!Katanya dalam hati.Sepeda itu ikut berhenti.Pria itu menengok ke belakang dan tersenyum pada gadis itu.Ia mengambil bola yang tadi mengenai punggungnya.Ia mengendarai sepedanya berbalik ke arah gadis itu.
“Hya,Putri Kim Yoo Ra!Tumben kau sudah bangun.Biasa bangunnya seperti pemalas!”ejek Donghae yang kemudian tersenyum jahil.
“Hya,enak saja!Kau juga,telat sekali kau mengantar koran pagi ini!Biasanya sudah datang jam setengah enam.Hari ini baru sampai jam enam.Sudah begitu kau menimpukku lagi!Tidak sopan!”kata gadis bernama Yoo Ra itu.
Donghae hanya tersenyum lebar.
“Tumben kau menunggu kedatanganku.Kenapa?Kau mau baca koran?Tidak seperti biasanya,”kata Donghae.
“Ya, aku mau membaca korannya atau tidak itu semua terserah padaku.Yang penting kau menjalankan tugasmu dengan baik sebagai pengantarnya,”sahut Yoo Ra.
Donghae tersenyum lagi.Yoo Ra melihat ke arah tas yang biasa Donghae gunakan untuk membawa koran-koran pelanggannya.Sudah kosong.Berarti tugasnya sudah selesai.
“Sarapan bersamaku yuk,”ajak Yoo Ra.
“Mwo???Aniyo,aku tidak enak pada orangtuamu,”Donghae menolak dengan halus.
“Ah,orangtuaku sedang di luar negeri.Ayolah,temani aku sarapan kawan,aku yakin setelah kau mengantar koran-koran tadi kau juga lapar kan?Ayo makan bersamaku.Ya ya ya??”Yoo Ra membujuk teman sejak kecilnya itu.
“Ah Yoo Ra,aku tidak pantas duduk satu meja dengan tuan putri sepertimu,”Donghae menolak lagi.
Yoo Ra terlihat kecewa.Donghae hanya tersenyum melihat raut wajah Yoo Ra.
“Lain kali saja,saat aku sudah tidak bertugas seperti ini.Oke?”tanyanya.
“Huh,kau ini,kau kan sering main ke rumah ini dulu untuk bermain bersama dengan kakakku dan aku,”jawab Yoo Ra.
“Hya,itu kan sebelum semuanya berubah terbalik Yoo Ra.Saat itu,aku masih pantas..”
“Pantas apa?Duduk denganku?Sampai saat ini juga masih pantas.Kau kan teman kakakku dan aku sejak kecil.Sejak kapan ada istilah pantas dan tidak pantas??!Ayolah!”Yoo Ra masih berusaha mengajak Donghae.Donghae melihat ke arah jam tangannya yang lusuh di tangan kirinya.
“Gawat!Aku baru ingat,umma memintaku segera pulang setelah selesai mengantar koran!Mianhe Yoo Ra.Aku pulang duluan!Bye!”kata Donghae.
Ia melesat dengan sepedanya meninggalkan Yoo Ra dengan kekecewaannya.Yoo Ra akhirnya masuk ke dalam rumah dan membawa koran itu besertanya.
******
Yoo Ra dan Donghae adalah teman sejak kecil.Kakak Yoo Ra,Kim Ryeowook sudah dianggap seperti kakak Donghae sendiri.Donghae,walaupun seumuran dengan Yoo Ra,dia sudah seperti oppa untuk Yoo Ra.Sejak kecil mereka memang suka main bersama.Namun,saat Yoo Ra dan Dong Hae berusia 10 tahun,dan Ryeowook berusia 13 tahun,Ryeowook mengikuti kemauan orangtuanya untuk sekolah di luar negeri.Sejak saat itu,Donghae semakin sering menemani Yoo Ra yang kesepian.Tadinya,orangtua Donghae adalah pemilik sebuah perusahaan besar,sama seperti orangtua Yoo Ra.Namun,saat Donghae berusia 15 tahun,perusahaan ayahnya hancur.Ayahnya terlilit banyak hutang dan akhirnya jatuh miskin.2 tahun kemudian,Ayahnya meninggal dunia,meninggalkan Ibunya,Donghae dan kakak Donghae yang saat ini sedang bersekolah di luar negeri karena mendapat beasiswa.Sejak ayahnya meninggal itulah,Donghae rajin bekerja paruh waktu demi membantu ibunya menyambung hidup.Dia pernah menjadi penjaga toko 1 setengah tahun dan sudah setengah tahun ini menjadi pengantar koran setiap hari.Penghasilannya dia serahkan ke Ibunya,dan bila ada kelebihannya,dia akan menabung untuk biaya kuliahnya nanti.Demikianlah yang Yoo Ra dengar dari Donghae saat Yoo Ra menanyakan alasan mengapa Donghae mau menjadi pengantar koran.Yoo Ra ingin sekali membantu keluarga Donghae.Namun,Donghae selalu menolak.Dia bersikeras tidak ingin merepotkan orang sekitarnya.Setiap hari ia mengantarkan koran dengan rute sama.Rumah Yoo Ra selalu menjadi yang terakhir dalam rutenya.Maka,kalau kebetulan Donghae dan Yoo Ra bertemu pagi-pagi,Yoo Ra mengajak Donghae mengobrol dulu sebelum Donghae pulang.
“Lho,nona sudah mengambil koran yang diantar tuan Donghae?Baru saja saya mau mengambilnya,”demikian kata Bibi Song saat Yoo Ra membawa koran masuk ke dalam rumahnya.
Yoo Ra hanya tersenyum.Dia duduk di sofa dan mulai membolak-balik lembaran koran tersebut.Saat itu,sesuatu terjatuh dari dalam koran.Yoo Ra memungutnya.Selembar kertas.Yoo Ra berpikir mungkin itu selebaran iklan.Di kertas itu tertulis SMILE! Serta gambar orang sedang tersenyum.Yoo Ra hanya tersenyum.Iklan macam apa ini?Masih ada ya orang yang mau menghabiskan uangnya untuk hal tidak penting seperti ini?Gumamnya dalam hati.Sementara di rumahnya,Donghae hanya tersenyum sendiri mengingat sesuatu yang sudah dia lakukan.
*****
“Hya,kudengar,Donghae anak orang kaya?”
“Lah,dia memang kaya kok.Perusahaan Ibunya kan omzetnya bisa miliaran sebulan.Aku tidak bisa membayangkan bagaimana kayanya dia.”
“Hya,perusahaan ayahnya kan sudah hancur 2 tahun lalu.”
“Tapi sekarang ibunya berhasil membangun perusahaan itu lagi kok.Dan kudengar sangat sukses.Mereka bahkan sudah mau buka cabang.Sudah hampir berusia satu tahun katanya.”
“Kalau begitu,kenapa Donghae tidak tampil seperti anak orang kaya?Dia selalu memakai sepedanya ke sekolah.Tasnya yang jelek,dan jam tangannya lusuh sekali.”
“Mungkin dia tidak mau pamer.”
Pembicaraan 3 gadis itu terdengar oleh Yoo Ra dari dalam toilet.3 gadis-gadis itu adalah sumber gosip sekaligus sumber info terpercaya di kelas Yoo Ra.Yoo Ra yang mendengar nama ‘Donghae’ disebut cukup kaget mendengar semua itu.Kalau memang orangtuanya sudah sukses kembali,untuk apa Donghae menjadi loper koran??Tanya Yoo Ra dalam hati.Yoo Ra keluar dari toilet dan menemui 3 gadis itu.Yoo Ra tersenyum pada mereka.
“Hya,tadi aku tidak sengaja mendengar pembicaraan kalian.Memangnya Donghae betul anak orang kaya?”tanya Yoo Ra.
“Memang kau tidak tahu?Bukankah kau teman akrabnya sejak SMP?”tanya Rae Na,salah satu dari gadis itu yang mengenal Yoo Ra sejak SMP.
“Ah,kami sudah tidak begitu akrab lagi.Aku hanya tahu perusahaan ayahnya hancur.Tapi aku tidak tahu kelanjutannya,”jawab Yoo Ra berbohong.
“Ayahku bilang,perusahaan mereka dan perusahaan ayahku akan bekerja sama kok dalam sebuah proyek yang cukup besar.Dan kudengar dari ayahku,Ibu Donghae sangat hebat.Dia bisa membangun kembali perusahaan yang telah hancur,”jelas Yun Hee.
Yoo Ra hanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Beruntung sekali Donghae itu,”Yoo Na menanggapi.
Yoo Ra kecewa.Kenapa Donghae tidak pernah bilang kalau dia sudah kembali seperti dulu?Kenapa Donghae masih mau menjadi pengantar koran?Kenapa kau tidak bilang padaku Lee Donghae?Kenapa?Pertanyaan-pertanyaan terus ada di benak Yoo Ra.
********
Pulang sekolah,Yoo Ra mengajak Donghae pulang bersama.
“Hya,kau kan biasanya naik mobil.Mana mau kau dibonceng pemuda miskin sepertiku?”kata Donghae.
“Aku juga ingin merasakan naik sepeda.Ayolah..pulang bersamaku,”Yoo Ra terus memaksa.
Akhirnya mereka pulang bersama naik sepeda.Yoo Ra duduk di belakang Donghae.
“Tumben kau mengajakku pulang bersama.Ada apa?”tanya Donghae dalam perjalanan.
“Karena ingin,kenapa?Kau takut aku punya maksud jahat terhadapmu?”kata Yoo Ra.
Donghae hanya tertawa kecil.Sesampainya di taman tempat mereka biasa bermain dulu,Yoo Ra meminta berhenti.Yoo Ra turun dari sepeda itu.
“Hae,kurasa,kita perlu bicara,”ujar Yoo Ra.
“Bicara?”tanya Donghae.
Yoo Ra menatap Donghae dengan tatapan penuh selidik.Mereka berdua menghampiri kursi di taman itu.
“Kau merasa bersalah karena sudah menyembunyikan sesuatu dariku?”tanya Yoo Ra.
“Hya,apa maksudmu?”tanya Donghae balik.
“Untuk apa kau jadi pengantar koran?”
“Yah tentu untuk membantu ibuku.Kau tahu sendiri kalau keuangan keluargaku kan sulit.”
“Sulit??Kau bohong.”
Donghae menatap Yoo Ra.Mata Yoo Ra berkaca-kaca.
“Kupikir kau orang yang bisa kupercaya selama ini.Ternyata kau pembohong besar!”kata Yoo Ra sedikit keras.
Donghae terkejut dengan perkataan Yoo Ra.
“Yoo Ra,apa maksudmu?”tanya Donghae.
Air mata Yoo Ra mengalir.
“Ka…kau…ibumu…sudah membangun perusahaan lagi kan??Pe…perusahaan itu…sukses…seperti sebelumnya…”Yoo Ra terisak.
Yoo Ra tidak mengerti.Kenapa dia harus menangis di depan Lee Donghae,pria yang sebenarnya sangat ia sayangi ini.Apa karena Donghae tidak pernah memberitahukan hal sebenarnya?Donghae hanya terpaku.
“Jawab aku,Lee Donghae!Untuk apa kau masih jadi pengantar koran?Untuk apa??”tanya Yoo Ra dengan nada keras.
“Darimana kau tahu itu?”tanya Donghae.Dia kehilangan kata-katanya.
“Tak penting.Jawab aku,kenapa kau terus membohongiku?Kenapa kau tidak memberitahu yang sebenarnya?”
“Ka…karena…karena aku mencintaimu YOO RAA!AKU MENGANTAR KORAN SETIAP PAGI KE RUMAHMU!BERHARAP AKU BISA MELIHAT SENYUM MANISMU SETIAP PAGI!”Donghae berkata dengan setengah berteriak.
Yoo Ra kaget dengan ucapan Donghae.Donghae memegang pundak Yoo Ra.
“Kau tidak pernah tahu kan?Aku selalu menyelipkan kartu atau kertas di dalam koran itu untuk memberimu semangat.Apa kau tidak pernah membuka koran itu??”Donghae berkata lagi.
Jujur saja,Yoo Ra tidak pernah tahu dan nyaris tidak pernah membaca koran di rumahnya.Dan mendadak Yoo Ra ingat sebuah kardus penuh koran selama 6 bulan yang diletakkan oleh Bibi Song di depan kamar Yoo Ra.Yoo Ra tidak pernah bertanya kenapa.Airmata Yoo Ra menetes lagi.
“Ka…ka..kau…semestinya..tidak perlu begini…kenapa?Kenapa kau tidak menceritakan padaku?”tanya Yoo Ra.
“Karena…seandainya menceritakan hal ini padamu…aku tidak bisa mengantar kartu-kartu itu ke rumahmu lagi.Tidak ada alasan bagiku untuk mengantar koran lagi,dan melihat senyummu seperti kemarin…”jawab Donghae.Ia mengaku.Ia mengeluarkan saputangannya dan menghapus airmata di pipi Yoo Ra.
“Kalau kau sudah menganggapku bukan sahabat lagi,biarlah..Aku yang salah sejak awal..”kata Donghae lagi.
Ia meninggalkan saputangan itu di tangan Yoo Ra.Donghae menjauhi kursi itu dan meninggalkan Yoo Ra sendirian dengan tertunduk.
*******
Sesampainya di rumah,Yoo Ra masih sedikit sedih.Dia menemukan kardus berisi tumpukan koran itu di samping pintu kamarnya.Ia membuka lembaran koran demi koran satu persatu.Dia menemukan beberapa kartu dengan tulisan Donghae seperti ini :
-Hya,semangat selalu jalani harimu!!KEEP SMILING MISS!
-Hari yang indah diawali dengan senyuman!^^
-Aku ada untuk menemanimu!Jangan pernah merasa kesepian lagi!
Yoo Ra terharu membaca tulisan Donghae di kartu-kartu tersebut yang dia selipkan dalam koran yang diantar ke rumah Yoo Ra setiap pagi.Huh,untung orangtuanya tidak pernah membacanya.Tapi bagaimana caranya?
“Nona,tuan Donghae memang baik..”kata Bibi Song yang muncul tiba-tiba.
“Eh,Bibi..”Yoo Ra menyembunyikan kartu-kartu itu di balik punggungnya.
Bibi Song tersenyum.
“Aku membantunya menyembunyikan kartu-kartu itu.Setiap dia mengantarkan koran,aku selalu mengambil koran tersebut dan mengambil kartu yang dia selipkan dalam koran.Aku menyimpannya sampai orangtua Nona sudah selesai membaca koran tersebut.Baru aku selipkan lagi,”jelas Bibi Song.
“Ja..jadi Bibi tahu kalau dia sebenarnya tidak miskin lagi?”
“Aku tidak tahu soal itu.Aku hanya membantunya seperti ini kok,”jawab Bibi Song.
Yoo Ra terdiam.Donghae yang baik,Donghae yang selalu ada ketika dia sedih,Donghae yang selalu menemaninya,dan kini Donghae memberinya semangat lewat hal seperti ini,dan Donghae mencintainya..Yoo Ra tersenyum simpul.Ia mengambil salah satu amplop berwarna pink yang belum dia baca.
Yoo Ra yang kusayangi,
Aku tahu kamu tidak akan pernah membaca kartu ini,atau surat-surat dariku.Karena aku tahu hal yang paling malas kau lakukan adalah membaca koran kan??Hehe…
Hanya ini caraku menyemangatimu.Aku tidak pernah berani memberimu semangat secara langsung.Hanya dengan cara ini aku bebas berekspresi.
Semangat Yoo Ra!
Yoo Ra tersenyum membaca surat tersebut.Bibi Song melihat senyum itu dan meninggalkan Yoo Ra sendirian di kamarnya.
******
Yoo Ra yang selalu aku cintai…
Aku memang mencintaimu.Aku harus mengakuinya sekarang.
Aku pemuja rahasiamu.Hah…maafkan aku..aku tidak pernah memberitahu hal ini.Ibuku memang sudah membangun sebuah perusahaan lagi.Semestinya aku tidak lagi bekerja seperti ini.Namun,kalau tidak bekerja seperti ini,aku tidak punya alasan lagi untuk ke rumahmu.Aku terlalu malu untuk memberikan kartu-kartu dan surat ini padamu langsung.
Maafkan aku…
Hari ini,adalah hari terakhirku untuk bekerja seperti ini.Aku tidak pantas dicintai olehmu.Bahkan mungkin kau sudah membenciku dan tidak lagi mempercayaiku.Tidak ada alasan lagi untukku dekat dengan gadis sepertimu.Maafkan aku.Mungkin selama ini kartu-kartu dan surat-suratku mengganggumu.Atau kau tidak pernah membacanya sedikitpun??Tak apa,aku tak marah.Aku pikir,lebih baik kau tidak membacanya.Karena aku bisa malu..hehe..tetap semangat ya!
Lee Donghae,pengantar koranmu yang setia.
Yoo Ra membaca surat itu.Surat terakhir dari Donghae yang diselipkan di koran hari ini.Yoo Ra ingin menangis.Ottokhae??Aku..Aku juga mencintaimu Donghae…Kenapa kau memintaku tidak mencintaimu??Yoo Ra bertanya-tanya dalam hati.
*****
Seminggu kemudian…
Donghae menuju halaman rumahnya.Ia menanti akan pengantar koran yang biasanya mengantarkan koran ke rumahnya.Jalanan nampak sepi.Tidak nampak pengantar koran atau sepedanya.Donghae sudah resmi berhenti bekerja sejak seminggu lalu.Sejak Yoo Ra tahu dia sebenarnya tidak mengalami kesulitan keuangan.Dan selama seminggu itu,Donghae tidak bertemu Yoo Ra di sekolah.Donghae sengaja menghindarinya.Dia akan malu sekali karena Yoo Ra tahu yang mengiriminya kartu serta surat itu adalah seorang Lee Donghae.Donghae memutuskan untuk kembali ke dalam rumahnya lagi.
BUUK!
Donghae menoleh.Sebuah koran jatuh di tanah.Pengantar koran itu sudah melesat pergi dengan sepedanya.Donghae mengambil koran tersebut dan membolak-balik halamannya.Selembar kertas jatuh.Donghae tersenyum sendiri.Dia merasa de javu.Mungkin inilah apa yang pernah dilihat Yoo Ra saat itu,gumamnya dalam hati.Ia memungut kertas tersebut dan membaca isinya.
Hya,Lee Donghae…Pabo saram!!Kau bilang kau mencintaiku!Tapi kenapa malah menghindariku?Pabo ya!Dan pasti kau tidak sadar,siapa yang mengantar koran hari ini.Huh,laki-laki payah!Aku tidak marah padamu!Aku malah berpikir kau yang marah karena kartu dan surat darimu tidak pernah kubaca.Hehehe…mianheyo..aku malas membuka koran.
Hya,kau masih tidak sadar ya siapa pengirim surat dan koran ini??Pergilah keluar rumahmu.Dan lihat siapa pengantar sekaligus pengirim surat ini!
SARANGHAEYO LEE DONGHAE!!!ANNYEONG NEWSPAPER BOY!!^^
Lee Donghae tersenyum lebar.Ia berlari keluar rumah dan melihat pengantar koran cantik pagi itu dengan topi.Berdiri di sebelah sepeda,tersenyum padanya.Donghae berlari dan memeluk gadis itu yang tak lain dan tak bukan adalah Yoo Ra.
“Hya,kau belum mandi,jangan peluk-peluk aku!”seru Yoo Ra.
“Aku sudah mandi.Kau sok tahu!”kata Donghae sambil tetap memeluk Yoo Ra.
Yoo Ra hanya tersenyum.
“Hya,antarkan koran-koran ini bersamaku yuk!”ajak Yoo Ra.
“Kalau kau menolak jadi kekasihku,aku juga akan menolak ajakanmu!”jawab Donghae.
Mereka berdua tersenyum.Pagi itu,dua pengantar koran tampan dan manis mengantar koran ke pelanggan-pelanggan mereka di komplek itu.Keduanya tersenyum bahagia.
THE END
NB : Ini FF saya yang pertama di post di blog.Mianhe kalo jelek.Komen yaaa!Thanks!^^



